Judul: Promise (The Probability of Miracles)
Penulis: Wendy Wunder
Penerjemah: Nur Cholis
Penerbit: Noura Books
***
Campbell Cooper sudah lelah mengunjungi berbagai tempat ajaib yang katanya bisa menyembuhkannya, Padahal, dokternya sudah menyatakan tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Namun, ibunya tetap percaya ada keajaiban. Cam dipaksa ibu dan adiknya, Perry, untuk pindah ke Promise--Kota antah berantah yang menjanjikan kesembuhan.
Kota itu memang menarik dan ajaib--Cam mengakui. Langit senja yang seakan abadi, selahan luas dandelion ungu, sekawanan flammingo, bahkan salju bisa turun saat musim panas, Apalagi, cowok-cowok di sana seperti model katalog fashion. Salah satunya, Asher, pemilik rumah tempat Cam sekeluarga tinggal.
Cam bertanya-tanya, apakah dia harus pasrah menunggu keajaban terjadi, atau bisakah dia menciptakannya sendiri?
***
REVIEWSaya jatuh cinta dengan si tokoh utama, Campbel Cooper. Emang sih, awalnya dia kelihatan nyebelin banget karena nggak percaya keajaiban, tapi lama-lama saya malah suka sama karakternya. Dan saya kira ini hanya novel dengan cerita tokoh yang sakit dan lebay. Dan salah besar.
Buku ini tentang Campbell, cewek yang menderita kanker. Dokternya, Dr. Handsome (iya, serius) tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena kankernya sudah menyebar kemana-mana. Ibu Campbell, Alicia, yang bekerja sebgai penari Hula, dan adiknya Perry yang fanatik dengan unicorn, mengajak Campbell pergi ke Promise, kota yang katanya ajaib.
Promise, bukan hanya soal penyakitnya Campbell dan si ganteng Asher aja (hehe), tapi juga tentang keluarga, dan persahabatannya dengan Lily. Lily, adalah temannya yang juga menderita kanker. Ia dan Campbell pernah ikut Kemah Pemberdayaan Gadis-Gadis Shady Hill. Di perkemahan itu, Lily memaksa Campbell untuk membuat daftar flamingo, sebuah daftar yang berisi hal-hal yang ingin dilakukan sebelum mati. Campbell akhirnya berusaha menyelesaikan daftarnya, pertama ia awali dengan mengutil benda di sebuah supermarket. Saya mulai suka dengan tokoh Campbell saat dia sedang mengutil ini, hehe.
Saat perjalanan menuju kota Promise, ia mampir ke suatu toko oleh-oleh, dan mengutil (lagi). Di rumah neneknya, Nana, terjadi satu hal lucu lagi. Nana ingin membalas dendam pada mantan temannya, Rita, dengan cara mengambil daun pohon maple di Hoboken, yang dipercayai dapat menyembuhkan penyakit. Malam-malam, Campbell memanjat pohon untuk mengambil daun maple sedangkan Nana menjaga di bawah. So funny. Setelah itu mereka mampir di rumah Lily.
Dan sampailah mereka ke Promise. Banyak hal yang dilakukan Campbell disini. Ia ikut pesta tengah malam bersama anak-anak muda Promise yang mirip coverboy (*o*), bertemu teman-teman baru, jatuh cinta dengan Asher, magang di di sebuah klinik hewan, mengadopsi seekor lobster, main-main di pantai (duuh asik banget siih), bahkan dapat tiket gratis ke Disneyland dari yayasan kanker dan Campbell mengajak teman-temannya dan Perry.
Di buku ini, saya nangis di bagian Lily dan Campbell bertengkar, saat Campbell mengetahui Lily meninggal, saat Campbell mengecewakan Perry karena unicorn palsu, dan saat... kematian Campbell.
Buku ini, walau tokoh utamanya menderita kanker, tapi dia nggak lebay, kok, Campbell punya karakter yang kuat. Sedangkan sifatnya yang sama sekali tidak percaya akan keajaiban malah jadi nilai plus.
***
"Kematian tidak berarti tanpa cinta."
Rate saya:


